<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#">
<channel rdf:about="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/36">
<title>Belian</title>
<link>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/36</link>
<description>e-Journals Belian</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1864"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1585"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1583"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1376"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-05T01:38:47Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1864">
<title>Tahap Evaluasi Struktur Bangunan Beton Pasca Kebakaran</title>
<link>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1864</link>
<description>Tahap Evaluasi Struktur Bangunan Beton Pasca Kebakaran
Hariyani, Susi
Evaluasi sebenarnya merupakan bagian dari kegiatan penialaian (assesmemt) bangunan. Untuk kegiatan evaluasi diperlukan tenaga yang cukup berpengalaman dan ahli di bidangnya, peraltan yang memadai sesuai dengan jenis dan tingkat kerusakannya. Hasil pemeriksaan dan pengujian akan digunakan sebagai bahan evaluasi, untuk mengetahui tingkat kerusakan akibat kebakaran tersebut secara akurat. Evaluasi ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah perbaikan perlu dilakukan secara sebagian atau menyeluruh serta metode perbaikan yang bisa dilakukan.
</description>
<dc:date>2020-05-14T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1585">
<title>Program Manajemen Mutu Terpadu Berdasarkan Konsepsi HACCP</title>
<link>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1585</link>
<description>Program Manajemen Mutu Terpadu Berdasarkan Konsepsi HACCP
Vatria, Belvi
Integrated Quality Management Program (IQMP) berdasarkan konsepsi Hazard &#13;
Analysis Control Point (HACCP) adalah suatu Program Manajemen Mutu Terpadu (PMMT) yang berfungsi sebagai sistim pengawasan mutu makanan yang diberlakukan secara nasional, Hal ini berkaitan dengan Program Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka pengembangan Industri Pengolahan Makanan termasuk didalamnya hasil perikanan. Program Manajemen Mutu Terpadu ini dalam pelaksanaannya mengacu kepada Program Pengawasan Mutu Makanan Internasional yang dikenal dengan “ Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP)”. dengan munculnya &#13;
issue Food Safety dan issue global lainnya seperti issue lingkungan dan berkembangnya issue New Direction (Arah Baru) yang telah mendorong negara-nagara maju untuk mewajibkan penerapan sistim pengawasan mutu makanan berdasarkan konsepsi HACCP, Pemerintah Republik Indonesia telah mengambil langkah kongkrit dengan mengembangkan suatu sistim pengawasan mutu berdasarkan konsepsi HACCP yang dalam pelaksanaannya lebih dikenal dengan Program Manajemen Mutu Terpadu (PMMT).
</description>
<dc:date>2018-11-27T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1583">
<title>Pengalengan Ikan Lemuru (Sardinella Lemuru Fish Canning)</title>
<link>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1583</link>
<description>Pengalengan Ikan Lemuru (Sardinella Lemuru Fish Canning)
Vatria, Belvi
Pengawetan makanan dalam kaleng diartikan sebagai suatu cara pengolahan dengan &#13;
menggunakan suhu sterilisasi (110' C – 120' C) yang bertujuan menyelamatkan bahan makanan itu dari proses pembusukan. Secara umum proses pengalengan ikan lemuru meliputi tahap-tahap persiapan bahan mentah, pemasakan pendahuluan, pengisian bahan ke dalam kemasan, pengisian medium, penghampaan udara, proses sterilisasi, pendinginan dan penyimpanan. Pada unit pengalengan ikan, kedudukan kaleng dengan produk yang dikemas merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan daya awet (self life) produk pasca proses, sebab apabila mutu dari kaleng yang digunakan baik, maka selama proses dan setelah proses pengalengan selesai dapat menjaga kondisi kaleng agar tetap baik. Kemasan untuk pengalengan harus memenuhi  persyaratan antara lain : dapat ditutup secara hermetis, tahan dalam pemanasan suhu tinggi dan aman terhadap produk serta mampu melewatkan panas ke dalam produk secara efektif.
</description>
<dc:date>2018-11-27T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1376">
<title>PERTUMBUHAN BENIH IKAN JELAWAT (LEPTOBARBUS HOEVENI Blkr.) YANG DIBERI PAKAN BUATAN DENGAN DOSIS PREMIKS YANG BERBEDA</title>
<link>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/1376</link>
<description>PERTUMBUHAN BENIH IKAN JELAWAT (LEPTOBARBUS HOEVENI Blkr.) YANG DIBERI PAKAN BUATAN DENGAN DOSIS PREMIKS YANG BERBEDA
Purnamawati
Penelitian pembesaran ikan jelawat ini dilakukan dalam wadah yang terbuat dari waring dengan ukuran 40x40x40cm sebanyak 12 buah.&#13;
dengan kedalaman wadah yang terendam air sekitar 40 cm. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Ikan jelawat yang dgunakan dengan berat 5.51-6.68 gram dan panjang 5-8 cm. Padat tebar untuk setiap wadah adalah 6 ekor, dengan menggunakan pakan buatan berkadar dosis premiks 0%, 1%, 2% dan 3%. Dan pemberian makanan sebanyak 5% dari berat badan total perhari dengan frekuensi 3 kali sehari.
</description>
<dc:date>2004-07-01T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
