<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#">
<channel rdf:about="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/145">
<title>PJ-Belian-9-1-Januari-2010</title>
<link>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/145</link>
<description>Kumpulan e-Journal Belian Vol. 9 No. 1 Januari 2010</description>
<items>
<rdf:Seq>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/151"/>
<rdf:li rdf:resource="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/146"/>
</rdf:Seq>
</items>
<dc:date>2026-04-05T01:47:41Z</dc:date>
</channel>
<item rdf:about="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/151">
<title>Berbagai Kegiatan Manusia Yang Dapat Menyebabkan Terjadinya Degradasi Ekosistem Pantai Serta Dampak Yang Ditimbulkannya</title>
<link>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/151</link>
<description>Berbagai Kegiatan Manusia Yang Dapat Menyebabkan Terjadinya Degradasi Ekosistem Pantai Serta Dampak Yang Ditimbulkannya
Vatria, Belvi
Karena ekosistem pantai memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, memungkinkan manusia untuk memanfaatkan, mengeksploitasi dan membudidayakan sumber daya hayati yang ada tersebut. Berdasarkan perspektif produktivitas biologik, wilayah pesisir mendapat sebutan sebagai "parabolik domain" karena mempunyai produktivitas paling tinggi, namun demikian juga rentan dan berpeluang mendapat tekanan dari darat maupun dari laut (Gueloget dan Perthuisot, 1992). Secara ekologis terdapat fenomena dinamis seperti: abrasi, akresi, erosi, deposisi dan intrusi air laut. Di samping itu, masih terdapat juga fenomena non alamiah seperti: pembabatan hutan mangrove untuk pertambakan, pembangunan dermaga/jetty untuk pendaratan ikan dan reklamasi pantai. Gejala yang umum terjadi di wilayah ke pesisiran adalah interaksi faktor alam dan aktivitas manusia secara bersamaan, sebagai penyebab adanya degradasi ekosistem.
</description>
<dc:date>2013-02-21T00:00:00Z</dc:date>
</item>
<item rdf:about="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/146">
<title>Laju Infiltrasi pada Lahan Gambut yang Dipengaruhi Air Tanah (Study Kasus Sei Raya Dalam Kecamatan Sei Raya Kabupaten Kubu Raya)</title>
<link>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/146</link>
<description>Laju Infiltrasi pada Lahan Gambut yang Dipengaruhi Air Tanah (Study Kasus Sei Raya Dalam Kecamatan Sei Raya Kabupaten Kubu Raya)
Wibowo, Hari
Studi mengenai tanah gambut dalam hubungannya dengan kadar air tanah terhadap laju infiltrasi dirasakan cukup penting. Hal ini disebabkan karena tanah gambut adalah jenis tanah organis yang tidak menguntungkan untuk konstruksi sipil, sehingga sering dihindari untuk membangun sesuatu konstruksi di atas tanah gambut. Tetapi dengan semakin berkembangnya pengetahuan tentang perlaku tanah gambut dalam menerima pembebanan, ternyata jauh lebih menguntungkan baik secara ekonomis maupun secara teknis apabila dilakukan penimbunan langsung di atas tanah gambut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sifat karakteristik fisik dan laju infiltrasi gambut yang ada di sungai Raya Dalam jika ditinjau setiap interval lokasi dalam keadaan bebas maupun perlakuan secara khusus (Keadaan Normal). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian lapangan dan metode pengujian di laboratorium. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa laju infiltrasi yang dihasilkan pada setiap interval lokasi dalam keadaan bebas maupun perlakuan secara khusus (keadaan normal) memberikan angka yang bervariasi. Faktor utama yang sangat berpengaruh adalah tingginya kadar air yang dikandung oleh tanah gambut atau dapat dinyatakan bahwa laju infiltrasi akan bertambah besar apabila kadar air yang dikandung oleh tanah gambut semakin kecil. Karena jenis gambut yang diamati adalah fibrous peat maka besarnya kadar serat sedikit banyak akan berpengaruh terhadap laju infiltrasi yang dihasilkan. Dari percobaan diperoleh bahwa Kumulatif Infiltrasi (W) yang terjadi mengikuti persamaan y = -0,7112x2 + 42,931x + 14,411. Sedangkan besarnya kapasitas infiltrasi (Ic) dari hasil percobaan diperoleh persamaan y = 56,906x-0,4069.
</description>
<dc:date>2013-02-20T00:00:00Z</dc:date>
</item>
</rdf:RDF>
