<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom">
<title>PJ-Vokasi-8-2-Juni-2012</title>
<link href="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/74" rel="alternate"/>
<subtitle>Kumpulan e-Journal Vokasi Vol. 8 No. 2 Juni 2012</subtitle>
<id>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/74</id>
<updated>2026-04-05T01:33:11Z</updated>
<dc:date>2026-04-05T01:33:11Z</dc:date>
<entry>
<title>Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah</title>
<link href="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/83" rel="alternate"/>
<author>
<name>Rajagukguk, Managam</name>
</author>
<id>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/83</id>
<updated>2013-02-19T16:24:41Z</updated>
<published>2013-02-14T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Studi Pengaruh Jenis Tanah dan Kedalaman Pembumian Driven Rod terhadap Resistansi Jenis Tanah
Rajagukguk, Managam
Nilai resistansi jenis tanah dipengaruhi beberapa faktor yaitu jenis tanah (liat,berpasir dan berbatuan), lapisan tanah, kelembaban tanah,temperatur. Pengukuran resistansi jenis tanah pada keadaan dalam banyak mengalami kendala serta membutuhkan waktu dan peralatan yang komplit. Pengukuran dilapangan menggunakan metode empat titik susunan Wenner dengan kedalaman 10 cm - 150 cm dan jarak antar elektroda adalah 3m. Dengan metode C.J Blattner keterbatasan alat pengukuran resistansi jenis tanah pada keadaan lebih dalam, dapat digantikan karena pada metode ini hanya menggunakan 2 buah hasil pengukuran pada kedalaman 100 cm - 150 cm sebagai titik referensi dalam memperkirakan nilai resistansi jenis tanah pada keadaan lebih dalam. Hasil perhitungan nilai rata - rata resistansi jenis tanah di atas kedalaman 2m untuk tanah pertanian adalah 53,64 Ω-m dan cenderung menurun secara konstan dengan nilai berkisar antara (54,98-52,38) Ω-m, pada tanah pasir basah adalah 124,775 Ω-m dan juga cenderung menurun secara konstan dengan nilai berkisar antara (132,1-120,41) Ω-m, sedangkan pada tanah bebatuan bercampur pasir adalah 1275,748 Ω-m dan terjadi peningkatan dengan nilai antara (511,04-1716,8) Ω-m.Berdasarkan hasil perhitungan untuk mendapatkan nilai resistansi pentanahan dibawah 5 Ω penanaman optimal batang tunggal elektroda pada tanah pertanian adalah 14 m dengan nilai resistansi pentanahan 4,85 Ω, tanah pasir basah adalah 28,5 m dengan nilai resistansi pentanahan 4,98 Ω, dan tanah batuan bercampur pasir adalah 49m dengan nilai resistansi pentanahan 4,02 Ω.
</summary>
<dc:date>2013-02-14T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Respons Kematangan Gonad dan Sintasan Induk Ikan Patin Siam (Pangasius Hypopthalmus) terhadap Pakan dengan Kandungan Tepung Cacing Tanah Berbeda</title>
<link href="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/82" rel="alternate"/>
<author>
<name>Susanti, Romi</name>
</author>
<author>
<name>Mayudin, Arif</name>
</author>
<id>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/82</id>
<updated>2013-02-19T16:55:39Z</updated>
<published>2013-02-14T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Respons Kematangan Gonad dan Sintasan Induk Ikan Patin Siam (Pangasius Hypopthalmus) terhadap Pakan dengan Kandungan Tepung Cacing Tanah Berbeda
Susanti, Romi; Mayudin, Arif
Penelitian mengenai respons kematangan gonad dan sintasan induk ikan patin siam (Pangasius hypopthalmus) terhadap pakan dengan kandungan tepung cacing tanah berbeda ini telah dilaksanakan di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar Sukamandi, Subang, Jawa Barat, dari bulan Juni sampai dengan Agustus 2011. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan yang terdiri dari perlakuan pakan tanpa penambahan tepung cacing tanah (kontrol) dan tiga perlakuan penambahan tepung cacing tanah sebanyak 10%, 20%, dan 30%. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa induk ikan patin yang diberi pakan yang mengandung tepung cacing tanah yang berbeda menghasilkan respons kematangan gonad dan sintasan larva menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pakan tanpa kandungan cacing tanah. Pemberian pakan dengan kandungan cacing tanah optimal sebesar 21% menghasilkan respons sintasan larva yang maksimal sebesar 60,32%.
</summary>
<dc:date>2013-02-14T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Pengolahan Rumput Laut (Eucheuma Cottoni) Menjadi Serbuk Minuman Instan</title>
<link href="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/81" rel="alternate"/>
<author>
<name>Wibowo, Lukas</name>
</author>
<author>
<name>Fitriyani, Evi</name>
</author>
<id>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/81</id>
<updated>2013-02-19T16:54:35Z</updated>
<published>2013-02-14T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Pengolahan Rumput Laut (Eucheuma Cottoni) Menjadi Serbuk Minuman Instan
Wibowo, Lukas; Fitriyani, Evi
Diversifikasi produk rumput laut berupa minuman berserat dalam bentuk bubuk yang sebelumnya telah mengalami proses pengeringan dan penepungan menjadi serbuk instan rumput laut. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan proses pengolahan serbuk minuman rumput laut dengan menguji nilai kandungan kadar air, kadar abu, kadar serat dan karbohidrat dari minuman serbuk rumput laut. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dengan 3 kali ulangan. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan perbandingan gula dengan 4 jenis tipe formula, yaitu: Rumput laut Kontrol (0% gula, 0% Essens), Rumput laut EG 25% (25% gula, 1% Essens), Rumput laut EG 50% (50% gula, 1% Essens), Rumput laut EG 75% (75% Gula, 1% Essens). Dari hasil penelitian bahwa serbuk minuman rumput laut didapat kandungan serat kasar pada penambahan tanpa perlakuan 11,83%, EG 25% sebesar 6,19%, EG 50% sebesar 5,80% dan EG 50% sebesar 5,25%. Hasil analisis proksimat serbuk minuman terbaik yaitu pada perlakuan tanpa gula dengan kadar air 2,07%; abu 25%; dan karbohidrat 2,28%.
</summary>
<dc:date>2013-02-14T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Status Keberlanjutan Tipologi Rumah Panggung pada Lahan Bergambut di Kawasan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat</title>
<link href="http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/80" rel="alternate"/>
<author>
<name>Utami, Weni Dewi</name>
</author>
<id>http://repository.polnep.ac.id:80/xmlui/handle/123456789/80</id>
<updated>2013-02-19T16:26:07Z</updated>
<published>2013-02-14T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Status Keberlanjutan Tipologi Rumah Panggung pada Lahan Bergambut di Kawasan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya Kalimantan Barat
Utami, Weni Dewi
Sungai Raya has the characteristic of peat land. This study aims to analyze the sustainability a typology of housing in the Sungai Raya thats 'typology of houses on stilts (rumah panggung), as a recommendation to design a model of sustainable settlements in the region bergambut. Research methodology using Multi Dimensional Scaling (MDS), the software is modified from the Rap Rapfish into the Peatsett (Rapid Appraisal Peat Settlement). To find out sensitive indicators and the effect on the value of the index and sustainability status using Leverage analysis and Monte Carlo analysis. Values obtained from the summary assessment of sustainability experts and stakeholders selected. MDS analysis results indicate that the ecological dimension of houses on stilts sustainable enough just by 65.52%, less sustainable for economic dimensions by 41.18%, socio-cultural dimensions is sustainable enough for 56.96%, and less sustainable technology dimensions of 46.69%. From the 20 indicators analyzed from four dimensions, shows that 9 indicators of influence and five dominant indicators needs to be improved to enhance the status of sustainability in the future to achieve sustained. Error rate is quite small at 95% confidence interval. Monte Carlo analysis results shows the value that is not much different from the results of MDS analysis with a range of values between 0.2 - 0.8 which indicates that the calculation of MDS by using Rap-Peatsett have a high degree of precision.
</summary>
<dc:date>2013-02-14T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
